Perempuan dan Transformasi Tren Traveling di Indonesia: Dari Sekadar Destinasi Menjadi Pencarian Makna
kabarsegar – Selama bertahun-tahun, masyarakat memaknai traveling sebagai kegiatan berpindah lokasi untuk sekadar berlibur dan melepas penat. Wisatawan biasanya menargetkan lokasi baru yang jauh, menikmati pemandangan, lalu pulang membawa cerita visual. Namun, paradigma tersebut kini mengalami pergeseran drastis. Perjalanan wisata masa kini tidak lagi menitikberatkan pada seberapa jauh atau seberapa eksotis sebuah destinasi, melainkan berfokus pada kedalaman pengalaman, refleksi personal, serta nilai kehidupan yang bisa wisatawan bawa pulang. Menariknya, agen utama penggerak transformasi fundamental di industri pariwisata ini adalah kelompok perempuan.
Dominasi Perempuan dalam Penentuan Keputusan Perjalanan Global dan Lokal
Secara global, perempuan sukses mengambil alih kendali dan mendominasi arah industri perjalanan. Data menunjukkan bahwa perempuan menentukan sekitar 80 hingga 82 persen dari total keputusan traveling. Fakta ini tetap berlaku kuat meskipun mereka bukan pihak utama yang mengeluarkan dana. Lebih lanjut, perempuan juga mengeksekusi lebih dari 60 persen pemesanan perjalanan secara mandiri.
Angka-angka tersebut menjadikan kelompok perempuan sebagai segmen pasar dengan laju pertumbuhan paling pesat, terutama pada sektor luxury travel (perjalanan mewah) dan experiential travel (perjalanan berbasis pengalaman). Fakta ini mengukuhkan posisi perempuan bukan sekadar sebagai konsumen pasif, melainkan perancang tren utama pariwisata. Di Indonesia, tren ini semakin menguat seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesejahteraan mental dan work-life balance pascapandemi. Perspektif perempuan dalam berwisata cenderung menuntut perjalanan yang reflektif, terkurasi, dan selaras dengan kebutuhan emosional mereka.
Baca Juga : “Rekomendasi Sandal Wedges Elegan untuk Lebaran“
Makna Baru Kemewahan dan Pesatnya Pertumbuhan Sport Tourism
Merespons tingginya permintaan untuk perjalanan bermakna, pelaku industri pariwisata mulai merombak strategi komersial mereka. Golden Rama Tours & Travel, misalnya, meluncurkan inisiatif “Wanita & Wisata” untuk menyajikan pendekatan perjalanan yang jauh lebih personal dan berlapis. Langkah ini secara otomatis mengubah definisi kemewahan dalam berwisata. Jika dahulu kemewahan selalu terikat pada fasilitas bintang lima dan harga selangit, kini konsep tersebut bergeser pada penciptaan koneksi emosional, penyediaan ruang refleksi diri, serta hadirnya perspektif baru bagi wisatawan. Pertumbuhan segmen perjalanan premium yang mencapai angka 31 persen pada tahun 2025 menjadi bukti konkret dari pergeseran ini, di mana perempuan menyumbang porsi dominan sebesar 64 persen.
Selain pencarian makna emosional, tren perjalanan berbasis aktivitas fisik atau sport holidays juga melonjak tajam. Wisatawan modern kini mengintegrasikan liburan dengan partisipasi maraton internasional, program wellness, atau aktivitas alam luar ruang. Berdasarkan data internal Golden Rama, minat terhadap Sport Holiday naik 29 persen pada 2024 dan meroket drastis hingga 320 persen pada 2025. Perempuan mencatatkan tingkat partisipasi sebesar 34 persen dalam kategori pariwisata aktif ini, dengan persentase pemesanan ulang (repeat order) mencapai 20 persen. Hal ini membuktikan bahwa pemeliharaan kesehatan fisik dan keseimbangan hidup saat bepergian memberikan tingkat kepuasan jangka panjang yang tinggi.
Strategi Industri Merespons Perilaku Traveler Masa Kini
Evolusi makna traveling ini juga merambah ke dalam sektor korporasi. Perusahaan modern saat ini memanfaatkan incentive travel bukan lagi sekadar sebagai bonus liburan tambahan. Mereka menggunakan perjalanan korporat sebagai strategi krusial untuk mempererat kolaborasi tim, meningkatkan keterlibatan (engagement) karyawan, dan pada akhirnya memacu produktivitas kerja yang lebih sehat.
VP Business Development Golden Rama Tours & Travel, Kitty Chandra, menegaskan bahwa masa depan industri pariwisata sangat bergantung pada kemampuan agen perjalanan memahami psikologi dan kebutuhan terdalam manusia. “Ke depan, diferensiasi tidak lagi terletak pada destinasi, tetapi pada seberapa dalam kita memahami manusia—emosi, aspirasi, dan makna yang mereka cari dalam setiap perjalanan. Traveler hari ini tidak lagi sekadar mencari tempat, tetapi mencari pengalaman yang relevan dengan siapa mereka dan apa yang mereka butuhkan,” ujar Kitty.
Menambahkan pandangan tersebut, GM of Communications & CRM, Ricky Hilton, menyatakan bahwa suara perempuan kini menjadi pembentuk utama cara industri mengomunikasikan dan mengemas setiap paket perjalanan agar lebih relevan.
Secara keseluruhan, industri travel sedang mengalami revolusi besar dari sekadar “menjual lokasi” menjadi “merancang pengalaman hidup”. Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, traveling justru menemukan fungsi esensialnya sebagai ruang jeda. Ini menjadi kesempatan berharga bagi individu untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan menyusun ulang prioritas hidup. Di garis depan pergerakan ini, perempuan terus memimpin transformasi, memastikan bahwa setiap jejak perjalanan tidak hanya berkesan, tetapi juga memberikan dampak positif yang mengakar kuat bagi masa depan.
Baca Juga : “Doa setelah Tahajud untuk Meminta Jodoh Terbaik“











